Geomorfologi
merupakan suatu ilmu tentang bentuk permukaan bumi masa kini dan proses yang
mengakibatkan bentuk itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Secara sederhana,
geomorfologi dapat didefinisikan sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan yang
mempelajari bentuk atau rupa permukaan bumi, proses pembentukan, dan
karakteristik dari bentuk muka bumi tersebut (anonym, 2010). Melalui pemahaman dalam mempelajari geomorfologi,
kita dapat menentukan parameter yang menjadi acuan dalam menghitung panjang
lereng, tinggi tebing, kedalaman suatu tanah dsb. Bentuk muka bumi yang bulat
ini, terdiri dari bentang alam yang merupakan kumpulan dari daratan dan lautan.
Secara komplek melalui satuan-satuan geomorfologi, daratan dan lautan dapat
kita ketahui struktur, cara terbentuknya dan tahapan-tahapan selama proses
pembentukannya. Sebelum mempelajari lebih dalam mengenai geomorfologi, kita
lebih dahulu harus mengetahui proses pembentuk utama yang bertanggung jawab
terhadap pembentukan topografi. Proses itu dipengaruhi oleh angin, ombak,
cuaca, pergerakan tanah, aliran air, gletser, tektonik dan vulkanik. Adapun akibat
proses dari aktivitas alam yang dipelajari dalam geomorfologi yaitu:
·
Proses Fluvial
Proses yang terjadi melalui permukaan,
termasuk dari air yang terpadu (sungai) dan air yang tidak terkonsentrasi
(sheet water). Proses dapat dihasilkan juga melalui sedimentasi ataupun erosi.
Proses ini berlangsung secara aktif di pesisir delta. Bentukan lahan yang dapat
kita temui yang terjadi dari proses fluvial yaitu dasar sungai, dataran banjir,
tanggul alam, dataran alluvial, delta, pantai delta.
Wilayah di Indonesia yang merupakan
bentukan dari proses ini yaitu Kota Bogor.
·
Proses Aeolian
Proses ini melibatkan angina dalam
pembentukan topografi suatu wilayah. Menurut Wikipedia, 2017 menyatakan bahwa
proses ini merupakan proses yang diakibatkan oleh aktivitas dan kemampuan
angina untuk mengikis (Erasional), mengangkut (Deposisional),
dan mengendapkan (Sedimentasi), bahan material di wilayah yang vegetasinya kurang
dengan wilayah bersedimen luas. Proses ini sering terjadi di lingkungan
kering/gurun.
·
Proses Hillslope
Nama lain dari proses ini adalah Mass
Wasting Process. Proses ini dipengaruhi oleh gravitasi bumi. Tahapan yang
terjadi dari proses ini dimulai dari rayapan (Creep), aliran (Flows),
rebahan (Topless) atau jatuhan (Slides). Tanah, regolith dan batuan
pun dapat berpindah melalui proses ini. Wilayah yang merupakan hasil dari
bentukan proses ini yaitu Palo Duro Canyon yang berada di Texas, Amerika
Serikat.
·
Proses Glacial
Proses yang terbentuk dari adanya
aktivitas pergerakan es dan gletser dalam kurun waktu yang lama. Beberapa
faktor yang mendukung terjadinya proses ini yaitu suhu lingkungan yang rendah,
pada musim dingin jumlah es yg terbentuk lebih banyak, tingkat peleburan yang
rendah. Bentukan lahan yang terjadi akibat proses glacial yaitu Till, Erratic,
Moraine, Drumline, Outwash, Kame.
·
Proses Tektonik
Proses yang terjadi akibat tenaga
endogen (tenaga dari dalam bumi). Mengakibatkan terbentuknya patahan, lipatan,
dan retakan pada kulit bumi. Bentang alam yang merupakan bentukan dari proses
ini yaitu pegunungan.
·
Proses Igneous
Proses yang terjadi dalam pembentukan
batuan beku. Permbentukan ini terjadi akibat adanya aktivitas magma. Prosesnya
melalui kristalisasi, baik didalam lapisan bumi sebagai batuan intrusif
(plutonik) maupun diatas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik).
Bentukan alam di Indonesia yang terjadi dari proses ini yaitu Puncak Sumbing
yang berada di sisi selatan Gunung Kelud yang terbentuk oleh batuan andesit
abu-abu hasil dari pembekuan intrusif magma.
·
Proses Biological
Proses yang terbentuk karena adanya
interaksi antara makhluk hidup dengan bentang alam disekitarnya.
Hubungan Geomorfologi
dengan Ilmu Lain
Geomorfologi
sebenarnya dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang
perubahan-perubahan pada bentuk muka bumi dan secara umum didefinisikan sebagai
ilmu yang mempelajari tentang alam, yang meliputi bentuk umum roman muka bumi
serta perubahan yang terjadi sepanjang evolusinya dan hubungannya dengan
keadaan struktur dibawahnya, serta sejarah perubahan geologi yang diperlihatkan
atau tergambar pada bentuk permukaan itu (American Geological Institute, 1973).
Ilmu yang erat hubungannya dengan geomorfologi terutama adalah ilmu kebumian,
termasuk diantaranya yaitu:
Fisiografi : studi ini awalnya hanya mencakup
mengenai atmosfir, hidrologi dan bentang alam. Sehingga studi yang mempelajari
ketiga objek tersebut umumnya berkembang dibenua Eropa, sedangkan geomorfologi
merupakan salah satu cabang dari fisiografi.
Geologi : mempunyai objek studi yang lebih luas
dari geomorfologi, karena mencakup studi tentang seluruh kerak bumi, sedangkan
geomorfologi hanya terbatas pada studi permukaan pada kerak bumi. Oleh karena
itu, maka geomorfologi dianggap sebagai cabang dari geologi dan kemudian dalam
perkembangannya geomorfologi menjadi suatu ilmu tersendiri, terlepas dari
geologi. Hubungan ilmu ini terletak pada adanya konsentrasi cabang ilmu geologi
yaitu geologi struktur dan geologi dinamis yang bisa membantu untuk menjelaskan
evolusi permukaan bumi dan bentuk=bentuk bentang alam
Meteorologi dan
Klimatologi : konsentrasi
dalam pembelajaran ilmu ini yaitu mempelajari kondisi fisik dari atmosfir dan
iklim. Kondisi ini seperti cuaca, terjadinya angina, petir, kelembaban udara,
dan pengaruh perubahan iklim. Sehingga, untuk mempelajari perubahan yang
terjadi di permukaan bumi diperlukan pengetahuan tentang ilmu tersebut.
Hidrologi : merupakan suatu ilmu dasar yang
mempelajari mengenai air yang ada dipermukaan bumi, termasuk didalamnya ada sungai, danau, lautamn dan air bawah
tanah. Pengetahuan mengenai hidrologi juga akan membantu dalam mempelajari
geomorfologi.
Geografi: mempunyai objek studi yang lebih luas
daripada geomorfologi dan didalamnya juga mencakup bagaimana mengaplikasikan setiap jenis
bentang alam untuk aktivitas dan kehidupan manusia. Dengan kata lain, dapat
menjalin hubungan timbal balik antara manusia dengan bentang alam yang ada.
Satuan Geomorfologi
Menurut
Konsep Davis stadia geomorfologi
yang dikenal dengan Siklus Geomorfik (Geomorphic cycle) dapat diartikan sebagai
peristiwa yang mempunyai gejala yang berlangsung secara terus menerus
(kontinyu) sehingga gejala pertama berhubungan dengan gejala yang terakhir.
Suatu bentang alam dapat dikatakan telah mengalami gejala geomorfologi apabila
telah melalui tahapan perkembangan mulai tahap muda, dewasa dan tua. Stadium tua
dapat kembali menjadi muda apabila terjadi peremajaan (rejuvenation) atas suatu
bentang alam. Dengan adanya kembali ke stadia muda, berarti siklus geomorfologi
yang kedua mulai berlangsung. Untuk ini maka dipakai formula n+1 cycle, yaitu n
menerangkan jumlah siklus yang mendahului dari satu siklus yang terakhir. Istilah
lain yang sama yang dipakai dalam siklus geomorfologi adalah siklus erosi (cycle
erotion).
Relief Bumi
Berdasarkan
teori Davis dibagi menjadi 4 orde, yaitu:
Relief Orde Pertama (terdidi dari benua dan lantai
samudera)
Relief Orde Kedua (terdiri dari Pegunungan dan Dataran)
Relief Orde Ketiga (terdiri dari Patahan, Lipatan, Dataran
Pantai, Dataran Banjir)
Relief Orde Keempat (terdiri dari Graben, Horst, Sinklin,
Anti kiln, Monoklin)
0 Reviews:
Post Your Review